Zero Waste

Pemandangan sampah berserakan di ruang publik mengantarkan pada kampanye “Buanglah Sampah Pada Tempatnya”. Setelah sampah dibuang pada tempatnya, masalah baru pun muncul, pemilahan yang butuh waktu dan energi yang besar. Maka lahirlah kampanye pemisahan sampah organik dan sampah non organik. Ketika itu berhasil, tetap saja sampah masih menjadi masalah, volume nya yang sulit dikendalikan. Kampanye-kampanye itu faktanya belum merubah banyak perilaku kita dalam “menyakiti bumi”.

Kenapa belum merubah banyak? Karena yang menjadi masalah utamanya adalah “gaya hidup nyampah”. Silahkan kumpulkan sampah diri sendiri selama satu bulan, mungkin akan kaget saat melihat berat dan volumenya. Sejak bangun tidur hingga tidur kembali, berapa sampah yang kita buat setiap hari.

Lantas bagaimana solusinya? Karena masalah utamanya adalah “gaya hidup nyampah”, maka penyelesaiannya adalah “gaya hidup gak nyampah”. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah “Zero Waste Lifestyle“. Cara mewujudkannya bisa dilakukan dengan; (1) Tidak membeli benda apa pun kecuali yang benar-benar dibutuhkan, (2) Menolak dengan santun pemberian orang lain, jika tidak benar-benar membutuhkan pemberian tersebut, (3) Menggunakan kembali barang yang masih berguna, walaupun bekas, (4) Mendaur ulang sampah, dan (5) Menggunakan sampah untuk membuat kompos.

Penggunaan plastik sekali pakai merupakan contoh “dosa besar” bagi pegiat Zero Waste. Konsumsi minuman dengan kemasan plastik sekali pakai, jajan makanan dengan kemasan plastik sekali pakai, mungkin terasa ringan buat kita. Tanpa menyadari bahwa bumi tersakiti dengan gaya hidup nyampah tersebut. Contoh konkrit solusinya adalah dengan membiasakan diri ke mana-mana membawa tumbler dan lunch box. Untuk menghindari produksi sampah dari minuman dan makanan dengan kemasan plastik sekali pakai.

Seperti itulah salah satu gaya hidup yang ditanamkan di sekolah sehat nasional, Sekolah Islam Cendekia Cianjur (www.cendekia.sch.id). Semua warga sekolah, termasuk para guru dan peserta didik, membiasakan membawa tumbler dan lunch box. Dengan demikian sekolah tidak lagi menjadi tempat nyampah, melainkan tempat pembentukan gaya hidup tanpa nyampah. Buktinya sejak launching Zero Waste, tidak ada lagi tong sampah di gedung sekolah yang terletak di Kabupaten Cianjur Jawa Barat tersebut. Kenapa ga ada lagi tong sampah? Karena tidak ada yang produksi sampah. Itu lah Zero Waste Lifestyle yang sejatinya bisa diterapkan di setiap rumah, semua sekolah, dan setiap sudut planet bumi ini. Agar bumi tidak lagi tersakiti.

https://bandung.kompas.com/read/2022/08/30/070606478/potret-sekolah-zero-waste-pertama-di-cianjur-tak-ada-tong-sampah

 

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *